Selamat Datang di Blog WISATA SYARTA mari ber-Wisata bersama Saya Stevenly Alexsander Takapaha untuk berbelanja, menikmati kuliner yang enak-enak, menikmati Keindahan Alam ciptaan Tuhan, mengagumi budaya dan sejarah serta berpetualangan-Karena hidup ini Indah dan setiap tempat adalah objek wisata. Blog ini menampilkan semua objek wisata yang dikunjungi dan dapat diceritakan. Salam Wisata!
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

Ondel-Ondel Betawi di Jakarta

Berpose dengan Ondel-ondel di Jakarta pada 30 Agt 2017
Ondel-ondel kini dijadikan mata pencaharian hiburan di jalanan ibukota
Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Tampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih. Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang ada di beberapa daerah lain.

Sebenarnya Ondel-ondel adalah tokoh yang di hilangkan pada sendratari reog versi wengker dari Ponorogo adalah tokoh sepasang mahluk halus dengan tubuh raksasa, tetapi karena mengganggu perjalanan Singo Barong. maka dikutuklah merka menjadi Burung gagak dan burung merak dalam bentuk raksasa pula. Namun pada pemerintahan Batara Katong, tokoh-tokoh yang tidak terlalu penting di hilangkan.

Di dalam kesenian Jathilan jawa tengah di kenal dengan Gendruwon gede, di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, yang sudah ada sejak paska perang bubat yang di bawa pejabat sunda yang masih hidup dengan membawa Angklung Reyog, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung yang merupakan jenis Barong Bali yang di Bawa raja Airlangga saat menyelamatkan diri. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.

Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel masih bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.
Musik yang mengiringi ondel-ondel tidak tentu, tergantung dari masing-masing rombongan. Ada yang diiringi tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Gejen, Kampung Setu. Ada yang diiringi dengan pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh, sekarang pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diirig Bende, “Remes”, Ningnong dan Rebana ketimpring, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Lamoh, Kalideres.

Istana dan Makam Raja Manganitu Sangihe

Sangat senang bisa mengunjungi beberapa tempat bersejarah di tanah leluhurku Sangihe. Melihat  tempat-tempat tersebut seperti ada cerita yang dihidupkan kembali bahwa sesungguhnya Sangihe dulunya pernah mandiri (Independen) dan berjaya dalam suatu Kerajaan (Kararatung/Kedatuan) dengan  raja atau datu yang disebut Kulano. Banyak kerajaan yang pernah eksis dan memerintah Sangihe dan wilayah-wilayah kekuasaannya seperti Kerajaan Bowontehu, Kerajaan Tampungang Lawo, Kerajaan Tabukan, Kerajaan Kendahe, Kerajaan Tahuna dan Kerajaan Manganitu. Kerajaan yang paling eksis menurut saya adalah Kerajaan Manganitu karena Istana Raja, Perlengkapan Raja dan Makam Raja-Raja nya masih ada hingga kini. Pada minggu 20 Agustus 2017 sangat bertepatan 137 Tahun meninggalnya Raja Manganitu MH Mocodompis yang meninggal tanggal 20 Agustus 1880. (Raja Hari Raya Manuel Mocodompis 1864 – 1880) bisa menyempatkan diri ke Istana dan makam Raja Manganitu, di Makam Raja ada lambang Kerajaan Belanda. Dalam Sejarahnya memang negara kolonial ini juga pernah menjajah Indonesia, tetapi melihat lambang ini ada di makam raja apakah hubungan itu adalah penjajahan atau persahabatan?
Lambang Kerjaan Belanda yang terdapat di Kubur Raja Manganitu Foto oleh Stevenly Takapaha

Lambang Kerajaan Belanda

Tulisan Belanda di Nisan Raja Manganitu:
Ter Nagedachtenis Aan Onzen Lieven Vader En Grootvader
M. Mocodompis Radja V. Manganitoe Over: 20 Augutus 1880
Photo by Stevenly Takapaha 20 Agustus 2017

Baju Raja Terakhir Kerajaan Manganitu
Wilem Manuel Pandensolang Mokodompis
dikenakan oleh Tokoh Sangihe Daniel Ambat


Swafoto didepan Istana Kerajaan Manganitu di Kampung Taloarane Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepl Sangihe, Sulawesi utara 20 Agustus 2017

Swafoto di depan Makam Raja Manganitu Manuel Hari Mocodompis
di Kampung Barangka Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepl Sangihe, Sulawesi utara 20 Agustus 2017

Odel-Ondel Jakarta

Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa







Goa Seram di Totombatu Talaud

 

Berwisata semasa SMP dulu bersama Teman-teman SLTP Negeri 1 Beo Talaud ke Goa di Desa Tarohan. Goa Totombatu merupakan sebuah goa batu unik berisi kumpulan tengkorak manusia, berada di bibir pantai di ujung selatan desa Tarohan, Pulau Karakelang, Kabupaten Kepulauan Talaud. Gua ini berada di atas sebuah bukit batu kecil setinggi kurang lebih 8 meter, yang menjorok ke arah laut sejauh lima puluh meter. Hal menarik dari tempat ini adalah struktur batu yang membentuk gua ini sangat beragam, yaitu terdiri dari bebatuan karang, batuan kapur dan batu-batu tua yang penuh retakan.

Di antara gugusan yang menjorok itu terdapat cekungan-cekungan membentuk gua yang beberapa di antaranya membentuk lobang besar, sehingga bisa dilalui oleh lebih dari satu tubuh manusia. Di bagian atas struktur bukit batu itu ditumbuhi berbagai pepohonan dan perdu khas daerah pantai. Pada salah satu kumpulan perdu rimbun di puncak bukit batu itulah terdapat gua yang menyimpan 33 tengkorak kepala dan tulang-belulang manusia. Dari tempat ini kita bisa melihat pulau Salibabu, pulau Nusa di tanjung Lobo dan cekungan pelabuhan Beo.

konon, menurut tuturan penduduk setempat, dahulu kala terdapat sebuah dataran tinggi bernama Tarapahan, yang artinya gunung sembilan. Di gunung inilah diyakini oleh masyarakat desa Tarohan sebagai asal muasal suku bangsa Talaud. Namun belum ada cerita pasti yang mencoba menjelaskan tentang keberadaan kumpulan masyarakat di dataran Tarapahan ini. Ada yang menyatakan bahwa kumpulan masyarakat itu merupakan masyarakat migran dari pulau Mangindano, atau Mindanao Filipina.
Sejumlah informasi yang pernah dirangkum Alfred Pontolondo (21/12/2006) dari beberapa tetua kampung Tarohan (Ayub Taengaten, Maramin Tumpil, Yosias Muhat, dan Mateos Mangule) mengatakan bahwa orang-orang pertama yang menghuni Totombatu merupakan generasi kesekian dari penghuni Tarapahan yang turun ke Totombatu untuk memulai kehidupan baru sebagai nelayan kira-kira 700 tahun yang lampau.
Mereka adalah tiga orang kakak-beradik Alambera, Puasa, dan Papaulla di tambah dengan Tatuhe, seorang nelayan pendatang dari Mindanao yang bertubuh raksasa. Bersama istri masing-masing yang berasal dari kampung-kampung di sekitar Tarohan, mereka kemudian beranak-pinak dan membentuk perkampungan kecil di kawasan Totombatu.
Saat salah satu anggota dari kumpulan masyarakat itu meninggal dunia, mereka yang masih hidup kemudian mengambil kepalanya, diletakkan di atas sebuah piring keramik atau guci dan kemudian diletakkan di dalam goa batu yang ada di atas bukit batu yang berada di bibir pantai kawasan Totombatu. Cara peletakan piringpun berbeda-beda, untuk tokoh masyarakat, piring berjumlah tiga buah dan diletakkan masing-masing di bawah tengkorak kepala, di bawah tulang panggul, serta di bawah tulang kaki. Sedang untuk masyarakat biasa piring hanya satu dan hanya menjadi tempat meletakkan kepala saja.
Taengetan menambahkan, jumlah tengkorak kepala dan tulang belulang yang ada di dalam goa batu itu lebih dari 100 buah. Ini berarti ada 100 lebih leluhur yang mati dan kepalanya diambil untuk diletakkan di goa batu. Salah satu dari sejumlah besar tengkorak itu berdiameter hampir 50 cm yang diyakini milik Tatuhe. Namun saat Pontolondo mengunjungi gua tersebut hanya menjumpai sekitar 33 tengkorak saja dan tidak ditemuka tengkorak raksasa milik Tatuhe sebagaimana yang diceritakan penduduk setempat. Satu hal yang menunjukkan tentang keberadaan tengkorak raksasa Tatuhe adalah adanya ruas-ruas tulang betis dan paha manusia yang memiliki ukuran sekitar 15 cm lebih panjang dari ruas ukuran normal tulang betis dan paha manusia Indonesia.
Diceritakan bahwa tulang-tulang itu hilang dari gua karena dicuri orang, dan yang paling besar terjadi di paruh tahun 1960-an ketika ada sekelompok orang yang mengaku berasal dari Belanda yang kemudian mengangkut sejumlah benda termasuk sebuah guci besar yang berisi tengkorak raksasa. Guci dan barang-barang peninggalan itu menurut Taengetan kemudian di bawa menuju negeri Belanda dan hingga kini tidak ada informasi lagi yang menjelaskan keberadaan sejumlah benda yang dicuri itu.
Oleh karena sempitnya kawasan hunian, penduduk Totombatu dalam kurun waktu 300 tahun berikutnya sejak kedatangan mereka dari dataran tinggi Tarapahan kemudian menyebar ke kampung-kampung di pesisir Karakelang. Sedangkan sebagian besar yang masih tertinggal kemudian berpindah ke arah utara, tepatnya di ujung selatan kampung Tarohan saat ini, yang dikenal dengan bahasa sastranya sebagai Maninggungkota. Pada pertengahan abad 19, penduduk yang berada di Maninggungkota kemudian berpindah lagi ke dataran yang lebih luas di sebelah utara hingga kini dan di sebut kampung Tarohan. Disebut Tarohan karena berada diantara dua sungai. Namun ada versi berbeda tentang nama Tarohan yang membuka cerita perlawanan rakyat Tarohan kepada Belanda. Dikatakan bahwa Tarohan berasal dari bahasa Melayu “Taruhan”. Yaitu kampung yang menjadi taruhan antara Mangenti, raja Tarohan dengan penguasa Kolonial Belanda yang saat itu datang dari arah Melonguanne dan yang bermaksud mengambil alih kampung Tarohan. Taruhannya adalah, apabila raja Mangenti tidak dapat memindahkan rakyatnya dari Maninggungkota dalam kurun waktu empat bulan maka Tarohan akan diambil oleh Belanda. Akan tetapi raja Mangenti bersama rakyatnya membangun Tarohan, baik rumah maupun benteng yang mengelilingi Tarohan hanya dalam waktu 40 hari 40 malam.
Tarohan pun bisa bebas untuk sementara dari tangan Belanda.
Penerus raja Mangenti yaitu raja Endang Mentiri mengikuti jejak pendahulunya untuk tidak berkompromi dengan Belanda. Ia tidak mau kerajaanya menjadi bagian dari kolonial Belanda. Maka pemerintah kolonial kemudian mengambil langkah dengan membawa beberapa pasukan dan serdadunya untuk langsung menangkap raja Endang. Setelah satu masa persembunyiannya dari pihak Belanda, raja Endang kemudian tertangkap di hutan dekat dataran Tarapahan setelah Belanda membujuk ipar raja Endang, yaitu saudara lelaki istrinya untuk menunjukkan persembunyian raja Endang. Akhirnya ia dibuang ke pulau Babi, yaitu salah satu pulau berdekatan dengan pulau Nusakambangan.
Dengan satu cara yang tidak di ketahui oleh rakyatnya, raja Endang akhirnya dapat meloloskan diri dari pulau Babi dan kembali ke Tarohan. Sesampainya di Tarohan ia kemudian segera menyerahkan tampuk kekuasaannya ke tangan raja Harun Sarendeng dan ia kemudian mengubah namanya menjadi Mangule. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan penyerangan Belanda yang dipimpin Tukunan atas Arangka’a yang dipimpin oleh raja Larenggam di tahun 1893.
Dengan bergulirnya waktu, Tarohan pun ikut berubah, benteng yang mengelilingi kampung yang dulunya merupakan kota kerajaan kemudian runtuh oleh gempa bumi di tahun 1936 dan disusul tahun 1971. Sementara beberapa senjata kuno hasil peninggalan dari jaman Belanda kini mulai rusak oleh karat, dan disimpan di rumah penduduk setempat. Pada akhirnya sejarah Tarohan, cerita Tarapahan dan Totombatu hanya tersimpan dalam benak para tetua adat dan nyaris hilang bila tidak ada dokumentasi dan kepedulian dari generasi muda Tarohan, pemerintah Talaud maupun masyarakat pecinta budaya di Talaud. Semoga saja kekuatiran ini tidak terjadi, dan cerita tentang Tarapahan, sejarah Tarohan maupun keberadaan Totombatu yang unik dapat dipertahankan dari generasi ke generasi.
Sumber: https://talaudnews.wordpress.com/2015/04/27/halo-dunia/

Pandai Besi [Kipung] Sangihe

Kipung adalah Profesi tukang besi asal Sangihe. Profesi ini telah menjadi Tradisi di Kampung Lenganeng Kecamtan Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe Propinsi Sulut




Menhir Warisan Budaya Purbakala di Sangihe

Menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditatah seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik, dari kata men (batu) dan hir (panjang).
Salah satu batu Menhir di Manganitu Sangihe Photo doc pribadi Stevenly Takapaha (syarta)
Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah, namun pada beberapa tradisi juga ada yang diletakkan terlentang di tanah. Menhir, bersama-sama dengan dolmen dan sarkofagus, adalah megalit. Sebagai salah satu penciri utama budaya megalitik, pembuatan menhir telah dikenal sejak periode Neolitikum (mulai 6000 Sebelum Masehi). Beberapa menhir memiliki pahatan pada permukaannya sehingga membentuk figur tertentu atau menampilkan pola-pola hiasan. Menhir semacam ini dikenal sebagai menhir arca (statue menhir). Pada kebanyakan kebudayaan, tradisi pembuatan menhir telah berlalu, diganti dengan pembuatan bangunan; namun demikian di beberapa tempat, terutama di Nusantara, tradisi ini masih dilakukan hingga abad ke-20.

Batu yang saya pegang ini adalah Menhir di Manganitu Kabupaten Sangihe yang berukuran mini
 karena tertimbun ukurannya mungkin lebih tinggi dari yang ada
Lokasi penemuan menhir tercatat di Eropa, Timur Tengah, Afrika Barat, India, Korea, serta Nusantara. Para arkeolog melihat bahwa menhir digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang

Di Sangihe menhir ditemukan di Kecamatan Manganitu. tepatnya disamping jalan raya dekat lapangan Sepakbola. Terdapat dua buah batu menhir dan mungkin lebih banyak lagi jika digali. Kadang banyak masyarakat Sangihe yang lalu lalang dan melihat menhir ini tapi belum semua yang tahu bahwa batu ini adalah suatu peningggalan purba suatu warisan Peradaban Sangihe kuno yang patut dijaga dan dilestarikan.. (syarta)

Kampung Kulur

Kampung Kulur memiliki Budaya yang terus dielstarikan dari generasi ke generasi khusunya pada Bulan Desember, sepertinya halnya juga di Kampung Kauhis dan /sesiwung masyarakat begitu antusias menyambut Natal dan Tahun baru dengan melakukan parase keliling Kampung dengan diiringi musik, nyanyian dan sambil besalam-salaman untuk setiap orang yang ditemui di jalan


Kubran Cina (Kerkop) Lenganeng

Kubur Cina Lenganeng merupakan nama yang merujuk pada Area Pekuburan Tionghoa yang terletak di Desa Lenganeng, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, sebuah kompleks pemakaman khas yang didedikasikan secara eksklusif bagi warga keturunan Tionghoa di wilayah tersebut, mencerminkan warisan budaya peranakan yang telah lama berakar di kepulauan ini sejak era kolonial Belanda. Seperti pemakaman Tionghoa tradisional lainnya di seluruh Indonesia, tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir, melainkan juga menjadi pusat kegiatan spiritual dan sosial yang ramai setiap tahun saat perayaan Ceng Beng—atau yang dikenal secara internasional sebagai Qing Ming Festival atau tradisi sembahyang kubur—di mana keluarga-keluarga keturunan Tionghoa dari berbagai penjuru berkumpul dengan khidmat untuk membersihkan batu nisan dan makam leluhur dari rumput liar serta debu, melakukan doa-doa penuh penghormatan sambil membakar dupa dan kertas perwakilan uang, serta mempersembahkan sesajen berupa makanan tradisional seperti kue bulan, buah-buahan segar, dan minuman, semuanya dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur, penghargaan abadi terhadap jasa para arwah leluhur, sekaligus mempererat ikatan keluarga di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk.

Sebelum puncak pusunge dan puncak alfa terkenal, untuk meliaht keindahan teluk/kota Tahuna, tempat ini adalah yang paling dicari


Kota Tahuna dari kerkop
Backround Kota Tahuna
Ka Me, Father, Fendy, Ka Wi, Rina, Epen