Selamat Datang di Blog WISATA SYARTA mari ber-Wisata bersama Saya Stevenly Alexsander Takapaha untuk berbelanja, menikmati kuliner yang enak-enak, menikmati Keindahan Alam ciptaan Tuhan, mengagumi budaya dan sejarah serta berpetualangan-Karena hidup ini Indah dan setiap tempat adalah objek wisata. Blog ini menampilkan semua objek wisata yang dikunjungi dan dapat diceritakan. Salam Wisata!
Tampilkan postingan dengan label Monumen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monumen. Tampilkan semua postingan

Monumen Korban Banjir Talea Tahuna Sangihe

Kai Tawe Ketakenge Tangu Ralangeliu E Si Kami? Tahendungko Mawu Apa E Naung Seng Nariadi Si Kami
Monumen Korban Banjir bandang dibangun untuk memperingati peristiwa banjir bandang di sungai Talea Kelurahan Dumuhung Kecamatan Tahuna Timur pada tanggal 11 Januari 2007 silam yang memakan korban meninggal dunia sebanyak 12 orang. Monumen ini terletak di lokasi banjir bandang yakni di jalan talea.
Berikut 12 Nama Korban Banjir :
    1.  Saneti Mandalika
    2. Denius Liroga
    3. Nofrisye Liroga
    4. Adrelin M. A. Liroga
    5. Inka Aloanis
    6. Yohanis Lahengko
    7. Margarita Lahengko
    8. Yuanita Lahengko
    9. Silfana Lahengko
    10. Silfia Lahengko
    11. Yulianti A, Madaha
    12. Yudi Salamisi


Arin Putri Selfi di Tugu Monemen Korban Banjir Talea Tahuna

Monumen Tuhan Yesus Raja Memberkati di Melonguane Talaud Sulut

Wisata Syarta-Talaud
Monumen Tuhan Yesus Raja Memberkati, merupakan tujuan wisata religi. Awalnya yang saya tahu monumen serupa ada di Brasil juga di negara-negara lain seperti di Polandia, Bolivia, Nigeria, Timor Leste, Portugal, AS, Vietnam, dan Laut Mediterania. Di Indonesia sendiri telah banyak monumen serupa khususnya di daerah dengan mayoritas penduduk yang beragama Kristen dengan ciri khas tertentu. Misanya di Manado (50 meter), Tana Toraja (40 Meter) , Maluku (25 Meter), Papua (33 Meter), dan NTT (58 Meter). Bahkan di Sulawesi Utara sendri selain di Manado terdapat juga patung di Kabupten/Kota lainnya seperti di Bitung, Minahasa Utara, Sitaro dan Talaud.


Ditalaud sendiri Tinggi monumen ini sekira 25 meter, berada di atas puncak bukit batu Melonguane kompleks perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud. Lokasi ini akan ramai pada sore dan malam hari di waktu libur dan akhir pekan. Tidak heran apabila monumen tersebut merupakan andalan untuk sektor pariwisata. Pembangunan monumen itu menelan biaya 6 miliar rupiah, yang bersumber dari APBD Talaud tahun 2015-2016.










Tugu Kujang Bogor

Tugu Kujang berdirih kokoh di Tengah Kota Bogor Jawa Barat (Foto Dokumentasi Pribadi Stevenly Takapaha)
Tugu Kujang merupakan simbol yang melambangkan kota Bogor yang wujudnya diambil dari sebuah senjata pusaka yang berasal dari Jawa Barat. Tugu Kujang dibangun pada 4 Mei 1982 pada masa pemerintahan walikota Achmad Sobana dengan biaya pembangunan mencapai 80 juta. Tinggi Tugu kujang kira-kira sekitar 25 meter dari permukaan tanah dengan seluas 26 meter x 23 meter. Tugu Kujang terletak di simpang tiga jalan raya Padjajaran, Otista, dan Baranangsiang. sering lewat sini tapi baru bisa dokumentasi and selfi pada 9 Juli 2018.



Monumen Malahasa bukti kejayaan Sangihe

Wisata Syarta. Tahuna
Jika kita berwisata di kota Tahuna pasti akan disuguhkan oleh bangunan tua berbentuk tugu Mercu suar di bekas pelabuhan Tahuna (Pelabuhan Tua) jalan raya boulevard. Tugu yang berdiri kokoh ini seakan mengisahkan kekokohan bangsa Sangihe dahulu, dimana perekonomian begitu maju dengan adanya pasar dengan negara negara lain. Komoditas kopra menjadi salah satu andalan pendapatan masyarakat. Hingga pada awal tahun 2018 ditugu ini diberi lukisan proses pembuatan kopra. Selain itu ada juga lukisan ciri khas batik Sangihe.

Monumen Nasional (Monas) Jakarta kilas balik sejarah bangsa Indonesia

Monas bukana hanya icon Jakarta tapi telah menajdi ikon Indonesia. Monas adalah objek wisata yang murah dan menyenangkan. ketika kita masuk di dalam Museum kita akan disunguhkan dengan Sejarah Bangsa Indonesia dari Tempeo Doeloe zaman Kerajaan-kerajaan sampai dengan sekarang.

Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan MerdekaJakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.[1][2][3] Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.
Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 -1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulanMaret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulanAgustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.[4][5] Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan GambirLapangan IkadaLapangan MerdekaLapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.

Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obeliskyang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari.[6] Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi The 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.

Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato[7] sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika pengunjung naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, pengunjung dapat melanjutkan berkeliling melihat relief sejarah perjuangan Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu di sudut timur laut, atau langsung naik ke tengah menuju ruang kemerdekaan atau lift menuju pelataran puncak monumen.
Pada halaman luar mengelilingi monumen, pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis.
Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.
Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.[1][8]. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara diding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.Semua itu sangat indah.

Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah ke selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala lampu perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram[1], akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas.[9] Puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah 5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).














Sebanyak 28 kg dari 38 kg emas pada obor monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.[10]




Monumen Zero Point Kota Bandung

saya memiliki perhatian khusus untuk titik nol di beberapa kota.. titik nol merupakan penentu jarak dari suatu kota ke tempat tertentu Semua Kota tentunya memiliki titik nol (zero point), untuk kota Bandung sendiri memiliki zero point yang unik dan klasik. Monumen zero poin ini diresmikan tanggal 18 Mei 2004 oleh H.Danny Setiawan.



Monumen Bom Bali. Teroris adalah musuh kita bersama | 21 Maret 2014

Monumen Bom Bali dikenal juga dengan nama Monumen Ground Zero dan terletak di Jalan Legian, Kuta yang merupakan kawasan yang ramai oleh wisatawan terutama mancanegara, di mana sepanjang jalan itu terdapat banyak cafeclub, dan toko-toko, serta tempat-tempat untuk menginap. Monumen ini sangat mudah untuk dicapai karena selain berada di tempat yang ramai dikunjungi wisatawan, juga merupakan kawasan atau salah satu jalur yang dilewati oleh setiap wisatawan yang ingin ke Pantai Kuta. Sehingga Monumen Bom Bali setiap harinya ramai dikunjungi baik oleh wisatawan maupun orang yang berlalu-lalang untuk mengenang para korban. Bilamana mengunjungi monumen tersebut, di dalamnya tertera nama dan beberapa photo dari para korban yang berjumlah 202 orang. Monumen Bom Bali dibangun untuk menghormati nilai-nilai kemanusiaan terutama para korban.
Monumen Bom Bali Jumat 21 Maret 2014

 Monumen "Ground Zero" merupakan monumen yang dibangun dengan tujuan untuk mengenang 202 korban ledakan bom di Sari Club dan Paddy’s Cafe di Jalan Legian, 12 Oktober 2002. Monumen ini mulai dibangun atas gagasan Nyoman Rudana (Ketua dari PUTRI Persatuan Tourist Attraction Indonesia Bali), yang menganjurkan agar didirikan sebuah monumen pada lokasi pemboman (dikenal sebagai lokasi "Ground Zero"). Setelah peristiwa pemboman itu terjadi, mulailah monumen tersebut dibangun dan selesai pada tahun 2003 dengan diberi nama "Monumen Panca Benua". Setahun kemudian, monumen ini baru diresmikan yaitu pada tanggal 12 Oktober 2004 oleh Kepala Bupati Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi dengan diberi nama "Monumen Tragedi Kemanusiaan Peledakan Bom 12 Oktober 2002".

Namun beberapa hari sebelum peresmiannya, yaitu pada tanggal 8 Oktober diadakan upacara ritual Hindu (upacara Mecaru dan Melaspas) yang bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan. Upacara berlangsung di lokasi peledakan bom (Ground Zero) yang terletak di antara Sari Club dan Paddy's Pub di Jalan Legian, Kuta. Upacara dipimpin oleh 2 pendeta Hindu, yakni Ida Pedanda Gede Putra Telapah dan Ida Pedanda Budha Gede Ketut Griya. Turut hadir pula Kepala Bupati Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi, beserta tokoh masyarakat Kuta. Upacara itu mendapat perhatian dari masyarakat Kuta dan wisatawan yang kebetulan melewati monumen.

Peristiwa Bom Bali terjadi tepat 1 tahun, 1 bulan dan 1 hari setelah Serangan Teroris 11 September 2001, menara World Trade Centre di kota New York, Amerika Serikat. Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di Jalan Legian, Kecamatan Kuta dengan menewaskan 202 orang dan mencederai 209 orang, yang kebanyakan adalah wisatawan mancanegara. Kejadian tersebut merupakan peristiwa terorisme paling parah dalam catatan sejarah Indonesia. Beberapa orang Indonesia telah dijatuhi hukuman mati karena peranan mereka dalam pengeboman tersebut. Sangat disayangkan tersangka pelaku Abu Bakar Baashir, yang diduga sebagai salah satu yang terlibat dalam memimpin pengeboman ini, dinyatakan tidak bersalah pada Maret 2005 atas konspirasi serangan bom ini, dan hanya divonis atas pelanggaran keimigrasian.
Monumen Bom Bali Jumat 21 Maret 2014

Para pelaku yang telah dihukum mati, mengakui tidak menyesal atas perbuatan mereka. Sedangkan para pelaku tersangka teroris yang lainnya, adalah sebagai berikut : Abdul Goni (didakwa seumur hidup), Abdul Hamid (kelompok Solo), Abdul Rauf (kelompok Serang), Abdul Aziz alias Imam Samudra (terpidana mati), Achmad Roichan, Ali Ghufron alias Mukhlas (terpidana mati), Ali Imron alias Alik, (didakwa seumur hidup), Amrozi bin Nurhasyim alias Amrozi (terpidana mati), Andi Hidayat (kelompok Serang), Andi Oktavia (kelompok Serang), Arnasan alias Jimi (tewas), Bambang Setiono (kelompok Solo), Budi Wibowo (kelompok Solo), Dr Azahari alias Alan (tewas dalam penyergapan polisi di Kota Batu, Malang tanggal 9 November 2005), Dulmatin (tewas tanggal 9 Maret 2010), Feri alias Isa (meninggal dunia), Herlambang (kelompok Solo), Hernianto (kelompok Solo), Idris alias Johni Hendrawan, Junaedi (kelompok Serang), Makmuri (kelompok Solo), Mohammad Musafak (kelompok Solo), Mohammad Najib Nawawi (kelompok Solo), Umar Kecil alias Patek, Utomo Pamungkas alias Mubarok (didakwa seumur hidup), dan Zulkarnaen.
Kewarganegaraan para korban berdasarkan data sebagai berikut : Australia 88 orang, Indonesia 38 orang (kebanyakan warga Bali), Inggris 26 orang, Amerika Serikat 7 orang, Jerman 6 orang, Swedia 5 orang, Belanda 4 orang, Perancis 4 orang, Denmark 3 orang, Selandia Baru 3 orang, Swiss 3 orang, Brasil 2 orang, Kanada 2 orang, Jepang 2 orang, Afrika Selatan 2 orang, Korea Selatan 2 orang, Ekuador 1 orang, Yunani 1 orang, Italia 1 orang, Polandia 1 orang, Portugal 1 orang, dan Taiwan 1 orang.