Mengarungi Malam Bersama KM Saint Mary: Catatan Perjalanan dari Petta menuju Manado
Perjalanan ke Kota Manado kali ini bersama rekan-rekan sepekerjaan Om Erick dan Ibu Jeane, kami memilih jalur laut menggunakan KM Saint Mary, kapal motor andalan yang bersandar di Pelabuhan Petta, Kepulauan Sangihe, petualangan malam di atas laut pun dimulai.
1. Hangatnya Sambutan di Pelabuhan Petta
Malam mulai turun saat kaki melangkah di area dermaga Pelabuhan Petta. Suasana pelabuhan tampak hidup oleh hilir mudik penumpang. Sebelum masu ke dermaga dan naik ke kapal, pemeriksaan karcis dimulai di gerbang depan berjalan dengan sangat tertib. Para petugas dari dinas terkait dan Coast Guard berjaga dengan ramah, memastikan setiap penumpang masuk dengan aman dan membawa dokumen perjalanan yang sah. Senyum ramah mereka seolah menjadi bekal ketenangan sebelum mengarungi lautan lepas.
Alfrits Sulungunaeng petugas andalan syahbandar
2. Keanggunan KM Saint Mary di Dermaga
Berdiri gagah di tepi dermaga, KM Saint Mary menyambut kami dengan lampu-lampunya yang terang benderang. Kapal bercat putih-abu ini terlihat sangat kokoh menantang kegelapan malam. Satu per satu penumpang menaiki tangga kapal, membawa tas dan koper mereka dengan penuh antusias. Di kejauhan, lampu gereja di atas bukit Petta yang ikonik terlihat menyala, memberikan pemandangan pelepasan yang syahdu dari daratan Sangihe.
3. Kenyamanan Kamar dan Fasilitas Keselamatan
Begitu masuk ke dalam kapal, saya langsung menuju kamar nomor 30 yang telah dipesan. Fasilitasnya terbilang sangat nyaman untuk ukuran pelayaran antar-pulau. Ruangannya bersih, dilengkapi dengan pendingin udara (AC) merek Akari yang dinginnya pas, membuat istirahat malam nanti dijamin akan lelap. Di setiap sudut strategis, jaket keselamatan (life jacket) berwarna oranye terang tergantung rapi dan siap sedia, memberikan rasa aman ekstra bagi seluruh penumpang.
4. Menu Sederhana yang Menggugah Selera
Sebelum memejamkan mata, perut yang mulai keroncongan harus segera diisi. Makan malam di atas kapal disajikan dalam kotak styrofoam sederhana namun sangat nikmat: sebungkus nasi putih hangat ditemani mi soun goreng, telur dadar yang gurih, dan tak lupa saset sambal tradisional. Menyantap makanan ini di atas kapal sembari mendengarkan deru mesin dan deburan ombak memberikan sensasi petualangan yang tidak ada duanya.
5. Berlayar Membelah Malam
Setelah semua siap, perlahan KM Saint Mary melepas talinya dari dermaga Petta. Perlahan namun pasti, kapal bergerak menjauh. Dari jendela dan dek kapal, lampu-lampu Pelabuhan Petta lambat laun mengecil dan memudar di kegelapan malam. Yang tersisa hanyalah pantulan cahaya lampu kapal di atas permukaan air laut yang hitam pekat. Waktunya meluruskan kaki di atas kasur berseprai biru motif mobil yang unik, menikmati ayunan ombak yang membawa saya tidur menuju Manado.
dikamar 30 KM. Saint Mary
6. Menyambut Pagi di Perairan Manado
Keesokan paginya, mata terbangun disambut oleh pemandangan laut yang tenang berlatar langit pagi yang syahdu. walaupun perjalanan kali ini terasa lebih lama karena menginformsikan kapal akan tiba pukul 10.30 wita KM Saint Mary telah memasuki wilayah perairan Sulawesi Utara mendekati kota tujuan. Di sekitar kapal, tampak perahu-perahu patroli kecil milik KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai) yang setia mengawal kelancaran lalu lintas laut. Kota Manado sudah di depan mata, menandai berakhirnya pelayaran malam yang tenang, aman, bersama KM Saint Mary.