Bab I: Ritme Ombak Menyambut Sauh (Hari 1 - 2)
Kisah ini dimulai pada Senin, 10 Agustus 2026 di Pelabuhan Tahuna. Tubuh tangguh KM. Barcelona 1 bersandar tenang, bersiap membawa kami membelah malam menuju Kota Manado. Angin laut malam itu membawa aroma petualangan yang pekat. Suara deru mesin kapal yang ritmis menjadi pengantar tidur yang syahdu di atas dek, mengiringi kapal yang membelah ombak Laut Sulawesi di bawah taburan bintang.
| KM. Barcelona 1 Saat Sandar di Dermaga Pelabuhan Tahuna |
Keesokan paginya, Selasa, 11 Agustus 2026, ufuk timur menyambut kami saat kapal merapat di Pelabuhan Manado.
Tanpa membuang waktu, perjalanan bertransisi dari jalur laut ke jalur udara. Dari Bandara Sam Ratulangi, burung besi membawa kami terbang menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
![]() |
| Pelabuhan Manado |
| Bersama Ari Ariandi di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado |
Makassar menyambut dengan kehangatan khas Sulawesi Selatan. Sebelum merebahkan diri, petualangan rasa dimulai. Semangkuk Coto Latimojong Maros yang kaya rempah menjadi penawar letih yang sempurna
Setelah sempat singgah di Perum Citra Sudiang Indah
kami melakukan check-in di Hotel Almadera Makassar yang menyuguhkan pemandangan pesisir pantai Losari yang menawan.
Sore itu bergulir santai—mulai dari merapikan penampilan di pangkas rambut Madura kompleks polsek Makassar, melihat keindahan Pantai Losari dari rooftop hingga menutup malam dengan obrolan hangat ditemani sepering nasi goreng merah di Cafe Dani Rasaq Pantai Losari Makassar.
| Menikmati Kuliner Khas Makassar Soto Latimojong |
Setelah sempat singgah di Perum Citra Sudiang Indah
| Bersama rekan-rekan di Perum Citra Sudiang Indah Makassar |
kami melakukan check-in di Hotel Almadera Makassar yang menyuguhkan pemandangan pesisir pantai Losari yang menawan.
Sore itu bergulir santai—mulai dari merapikan penampilan di pangkas rambut Madura kompleks polsek Makassar, melihat keindahan Pantai Losari dari rooftop hingga menutup malam dengan obrolan hangat ditemani sepering nasi goreng merah di Cafe Dani Rasaq Pantai Losari Makassar.
Bab II: Menuju Tanah Konawe (Hari 3 - 5)
Fajar di hari ketiga, Rabu, 12 Agustus 2026, kami kembali berada di terminal keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin. Kali ini, tujuannya adalah Bumi Anoa. Pesawat Garuda Indonesia mendarat mulus di Bandara Halu Oleo Kendari. Gerbang belantara fusi budaya dan alam Sulawesi Tenggara kini terbuka lebar.
Makan siang di RM. Ibu Dina menjadi perkenalan kuliner pertama kami di Kendari, sebelum akhirnya menaruh barang dan beristirahat di Same Hotel Kendari yang nantinya menjadi rumah kedua kami selama beberapa hari ke depan.
Sore hingga malam di Kendari berjalan begitu dinamis. Kami bercemilan sore di Pro Grill serta berbelanja kebutuhan upacara di Mall Mandonga
| Bandra Haluoleo Kendari |
Makan siang di RM. Ibu Dina menjadi perkenalan kuliner pertama kami di Kendari, sebelum akhirnya menaruh barang dan beristirahat di Same Hotel Kendari yang nantinya menjadi rumah kedua kami selama beberapa hari ke depan.
| Menu di RM. Ibu Dina Kendari |
Sore hingga malam di Kendari berjalan begitu dinamis. Kami bercemilan sore di Pro Grill serta berbelanja kebutuhan upacara di Mall Mandonga
Namun, magisnya Kendari baru benar-benar terasa saat malam memuncak: berdiri di bawah kemegahan Jembatan Teluk Kendari yang berhias lampu warna-warni, sambil menikmati legitnya Pisang Epe di pinggir pantai. Suasana Kendari malam itu sungguh menghanyutkan.
Hari keempat, Kamis, 13 Agustus 2026, dilewati dengan ritme yang lebih santai di Same Hotel, mengumpulkan energi untuk agenda latihan upacara bendera di hari-hari berikutnya.
Memasuki Jumat, 14 Agustus 2026, perjalanan bergeser ke arah timur menuju Konawe. Di sinilah esensi tugas atau pengabdian berpadu dengan petualangan, tepatnya di wilayah Sorue Jaya. Pesisir Konawe dengan anginnya yang hangat memberikan lanskap baru yang menambah semangat baru dengan suasana desa, kontras dengan hiruk-pikuk perkotaan yang kami tinggalkan beberapa hari lalu.
| Suasana Kamar di Same Hotel Kendari |
| Sarapan di Same Hotel Kendari |
Memasuki Jumat, 14 Agustus 2026, perjalanan bergeser ke arah timur menuju Konawe. Di sinilah esensi tugas atau pengabdian berpadu dengan petualangan, tepatnya di wilayah Sorue Jaya. Pesisir Konawe dengan anginnya yang hangat memberikan lanskap baru yang menambah semangat baru dengan suasana desa, kontras dengan hiruk-pikuk perkotaan yang kami tinggalkan beberapa hari lalu.
Bab III: Senandung Pesisir Kendari (Hari 6 - 8)
Hari keenam dan ketujuh (Sabtu, 15 Agustus & Minggu, 16 Agustus 2026) menjadi pembuktian betapa setianya kami pada rute Same Hotel dan pesisir Sorue Jaya, Konawe. Setiap sudut jalanan yang menghubungkan Kendari dan Konawe seolah mulai menghafal langkah kami. Untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas, OT Coffee Kendari menjadi tempat persinggahan yang sempurna di hari Minggu malam, menyajikan kehangatan kafein di tengah tawa yang renyah.
Senin, 17 Agustus 2026—tepat di hari kemerdekaan Upacara Bendera dipimpin langsung oleh Inspektur upacara Menteri Kelautan dan Perikanan Ir. Sakti Wahyu Trenggono, M.M., IPU dan Komandan Pasukan Dirjen PSDKP Dr. Pung Nugroho Saksono, A.Pi., M.M, latihan berhari-hari akhirnya terbayarkan dengan sukses acara ini,
| Pasukan Rewo-rewo Ditjen PSDKP Angkaan 201912 bersama Dirjen PSDKP dan Kabag Protokol MenKP |
| Utusan Stasiun PSDKP Tahuna (Stevenly, Donny, Sutrisno, Andi) pada upacara 17 Agustus 2026 di KNMP Sorue Jaya Konawe |
Bab IV: Kepakan Sayap Boeing dan Jalan Pulang (Hari 9 - 11)
Selasa, 18 Agustus 2026, tibalah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada Kendari. Hari keberangkatan tiba, dan agenda wajib yang tidak boleh terlewatkan sebelum meninggalkan Kota Kendari adalah berburu buah tangan untuk keluarga tercinta. Kendaraan melaju membelah jalanan kota yang ramah menuju ke salah satu surga camilan paling legendaris, yaitu Pusat Oleh-Oleh Mete Mubarao. Toko ini menjadi perhentian sempurna untuk mengemas cita rasa autentik Sulawesi Tenggara.
Sebelum menuju bandara, kami berkesempatan menyambangi kapal patroli KP. Hiu 15 yang sedang bersandar gagah di Dermaga PPS Kendari.
Sebelum menuju bandara, kami berkesempatan menyambangi kapal patroli KP. Hiu 15 yang sedang bersandar gagah di Dermaga PPS Kendari.
Pukul dua siang, kami sudah berada di dalam kabin Lion Air Boeing 737-900 (JT 997, PK-LHY). Dari balik jendela pesawat, daratan Kendari perlahan mengecil, digantikan hamparan awan putih berarak.
Kami transit kembali di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan memilih beristirahat di HK Guest House. Malam terakhir di Makassar dilewati dengan sangat lokal: menyeruput kopi di Warkop 21 Underpass dan berburu buah tangan untuk keluarga di Toko Oleh-Oleh Kota Daeng.
![]() |
| Lion Air Boeing 737-900 dari Kendari saat akan landing di Makassar |
Kami transit kembali di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan memilih beristirahat di HK Guest House. Malam terakhir di Makassar dilewati dengan sangat lokal: menyeruput kopi di Warkop 21 Underpass dan berburu buah tangan untuk keluarga di Toko Oleh-Oleh Kota Daeng.
Rabu, 19 Agustus 2026, adalah hari dengan mobilitas tinggi. Terbang dari Makassar, kami mendarat kembali di Bandara Sam Ratulangi Manado. Sembari mengerjakan tugas kantor diisi dengan bersantai di Setron Cafe Bandara, berjalan-jalan di Matahari dan JCo Manado Town Square (Mantos), serta menikmati makan malam yang lezat di RM. Putri Diva.
Tepat saat malam merambat, kami melangkah masuk ke dalam KM. Mercy Teratai di Pelabuhan Manado (Video). Lilin-lilin petualangan ini mulai meredup, bersiap untuk mengantarkan kami kembali ke pelukan beranda rumah.
Kamis pagi, 20 Agustus 2026, sayup-sayup suara burung laut dan deburan ombak yang dikenal memanggil kesadaran kami. Kapal merapat dengan anggun di Pelabuhan Petta. Langkah kaki kami kembali memijak bumi Manente, Tahuna.
![]() |
| KM. Mercy Teratai saat sandar di Pelabuhan Petta |
Ransel diturunkan, namun isinya kini telah berubah. Ia tidak lagi sekadar berisi pakaian kotor, melainkan telah penuh sesak oleh gemuruh ombak Laut Sulawesi, megahnya jembatan Kendari, renyahnya coklaat mete Kendari, dan kenangan tak ternilai dari sebuah trip luar biasa yang merajut tiga provinsi sulawesI utara, selatan dan tenggara menjadi satu untaian kisah petualangan.






.jpeg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar