Selamat Datang di Blog WISATA SYARTA mari ber-Wisata bersama Saya Stevenly Alexsander Takapaha untuk berbelanja, menikmati kuliner yang enak-enak, menikmati Keindahan Alam ciptaan Tuhan, mengagumi budaya dan sejarah serta berpetualangan-Karena hidup ini Indah dan setiap tempat adalah objek wisata. Blog ini menampilkan semua objek wisata yang dikunjungi dan dapat diceritakan. Salam Wisata!

berangkat dari Same Hotel singgah di Swissbelin hotel, lanjut ke Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari | 18 Agustus 2026

Menatap Teluk dari Jantung Pesisir
Waktu menunjukkan pukul 11.00 WITA. Setelah menyelesaikan proses check-out di lobi bernuansa Eropa klasik Same Hotel Kendari, saya melangkah keluar menyambut hangatnya matahari siang. Hotel yang terletak strategis di Jalan Edi Sabara (Bypass) ini langsung menyuguhkan tiupan angin laut yang segar khas pesisir pantai. Bagasi telah rapi di dalam kendaraan, dan roda pun mulai berputar menyusuri keindahan lanskap Kota Kendari.

Menyusuri Bypass Menuju Jantung Bisnis
Kendaraan bergerak perlahan membelah Jalan Edi Sabara. Di sebelah kiri, hamparan air Teluk Kendari yang tenang berkilau diterpa cahaya siang. Anda akan melewati deretan pusat kuliner modern, kafe estetik, dan area ruang publik hijau tempat warga lokal biasa bersantai. Dari kejauhan, kemegahan Masjid Al-Alam yang seolah terapung di tengah teluk berdiri dengan anggun menjadi latar belakang yang sempurna untuk diabadikan dari balik jendela mobil.
Hanya dalam waktu beberapa menit, kendaraan berbelok sedikit ke arah Jalan Sultan Hasanuddin untuk singgah sejenak di Swiss-Belinn Kendari. Kawasan ini memancarkan denyut nadi bisnis kota yang dinamis, dikelilingi oleh pusat perbelanjaan dan perkantoran modern yang menjadi roda penggerak ekonomi metropolitan Kendari.

Melintasi Landmark Megah Jembatan Teluk Kendari
Setelah menyelesaikan keperluan singkat di Swiss-Belinn, perjalanan berlanjut ke arah selatan menembus kawasan Kota Lama. Kendaraan Anda kemudian akan menanjak naik membelah kemegahan Jembatan Teluk Kendari (JTK). Begitu berada di atas jembatan, panorama kota tersaji secara utuh 360 derajat.
Dari titik tertinggi, Anda bisa melihat kesibukan perahu nelayan tradisional yang melintas lambat di bawah jembatan, kontras dengan perumahan warga yang berundak rapi di area perbukitan seberang teluk. Laut biru yang jernih dan bentang jembatan yang kokoh menciptakan pemandangan yang sangat ikonik.
Memasuki Kultur Bahari di Pesisir Abeli
Turun dari jembatan, atmosfer perkotaan yang modern berangsur berubah menjadi suasana lokal yang kental dengan budaya bahari saat memasuki Kecamatan Abeli. Menyusuri Jalan H. Banawula Sin Apoy, jejeran rumah panggung kayu khas pesisir sesekali menyembul di antara pepohonan kelapa. Aroma khas air asin dan pemandangan warga yang sedang merawat jaring ikan di pelataran rumah menjadi pemandangan harian yang sangat otentik sepanjang rute ini.
Tiba di Pusat Maritim Pelabuhan Samudera
Sekitar pukul 11.35 WITA, kendaraan akhirnya melambat dan memasuki gerbang Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari di Kelurahan Puday. Suasana di sini begitu hidup dan energik. Kapal-kapal motor nelayan berukuran besar bersandar rapi di sepanjang dermaga, membongkar hasil laut segar seperti cakalang dan tuna sirip kuning kualitas ekspor. Riuh rendah aktivitas para nelayan, agen ikan, dan buruh pelabuhan menjadi penutup narasi perjalanan yang sempurna—menegaskan identitas Kendari sebagai kota pelabuhannya para pelaut tangguh.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar